Dari Crayon hingga Klaim Buku: Perjalanan Kecil di Gramedia

Dentang.co.id – Kadang, yang mencuri perhatian kita bukan suatu incaran awal dalam suatu perjalanan. Begitu pula dengan dunia anak. Awalnya sederhana, suatu ketika anak dua tahun ini bertemu dengan iklan anak-anak seusinya yang sedang menggambar Gajah. Sontak ia bilang “Dedek mau beli crayon.” Sebelumnya ia sudah tahu, crayon adalah alat menggambar.

Responsif, saat ia menyampaikan keinginannya, sang ibu seketika menjawabnya penuh penasaran “Dede mau belajar menggambar? iya, nanti dicarikan sama Bapak”. Terbersit di benak ibu, mungkin di tempat fotokopian dekat rumah ada. Toh, yang dicari hanya crayon. Dan itu sudah cukup menjawab kebutuhan anak untuk belajar menggambar.

“Bagaimana kalau kita coba cari di Gramed?” timpal Bapak. Ia mulai menguji pandangan tentang crayon dan fotokopian. Akhirnya anak dan ibunya pun terpantik untuk ngulik lebih jauh: crayon di fotokopian simpan dulu sebagai opsi terakhir. Yang perlu dieksplor: bagaimana kalau crayon di Gramedia. Akhirnya, kami berangkat ke Gramedia Margocity, Depok.

Tidak ada rencana besar. Tidak ada target ambisius akan membeli buku tertentu, atau harus beli alat gambar dengan merk tertentu. Sederhana, hanya ingin mencari crayon yang diinginkan seorang anak kecil.

Tetapi ternyata, perjalanan mencari crayon itu berubah menjadi perjalanan kecil mengenal dunia.

Dari Crayon, Jadi Petualangan

Begitu masuk, kami tidak langsung menemukan apa yang dicari dan diinginkan sejak awal. Kami justru berkeliling. Rak demi rak dilihat. Buku-buku anak diperhatikan. Ada gambar, warna, karakter, cerita, dan berbagai macam buku aktivitas yang semuanya tampak menarik bagi mata anak kecil.

Anak kecil itu pun mulai ikut mengulik. Tangannya menunjuk ke sana-sini. Matanya terus berpindah dari satu buku ke buku lainnya dengan penuh penasaran. Sesekali bertanya. Sesekali hanya melihat untuk menjawah rasa penasaran keingintahuannya.

Di usia dua tahun, mungkin bagi orang dewasa itu terlihat seperti sekadar “muter-muter di toko buku”. Tapi bagi seorang anak, sebenarnya banyak hal sedang terjadi. Ia sedang belajar memilih. Ia sedang belajar mengenali sesuatu yang ia sukai. Ia sedang belajar bahwa ketika ingin mendapatkan sesuatu, ada proses untuk mencarinya. Dan yang paling menarik, ia sedang belajar dengan banyak bertanya.

Akhirnya crayon yang dicari ditemukan. Namun, perjalanan belum cukup, dan selesai. Bapak justru menawarkan sesuatu yang lain lagi. “Kalau pensil gambar bagaimana?”

Ia penasaran. “Pensil gambar?” Kami tunjukkan. Ia melihat, memperhatikan, kemudian tertarik. Masuk kranjang.

Setelah punya pensil gambar muncul kebutuhan berikutnya: kalau punya pensil gambar, tentu perlu buku gambar. Maka pencarian kembali dimulai.

Belum Menemukan yang “Srek”

Kami berkeliling lagi mengitari lorong labirin rak buku dari ujung ke ujung, dari sudut ke sudut lainnya di lantai dasar. Ada banyak pilihan, tetapi belum ada yang benar-benar membuat anak kecil itu berhenti dan berkata, “Nah ini yang aku cari!”

Sampai akhirnya kami bertanya kepada petugas. Petugas mengarahkan ke lantai dua. Kami pun naik.

Di lantai dua, perjalanan kembali berlanjut. Bukan dengan terburu-buru, tetapi dengan cara seorang anak kecil menjelajahi toko buku: melihat, memegang, menunjuk, bertanya, lalu berjalan lagi. Sampai akhirnya ditemukan sebuah buku gambar yang menurut anak kecilmenarik. “Nah, ini”.

Satu persoalan selesai. Tetapi justru dari sinilah cerita yang lebih kritikal dimulai.

“Kok Buku Dede Ada di Sini?”

Kami berjalan melewati rak-rak buku anak. Tiba-tiba Dede menunjuk beberapa buku yang berbaring di depannya. Kemudian dengan ekspresi penuh keyakinan ia berkata: “Kok buku Dede ada di sini?” Kami pun kaget, gemes campur aduk.

Ibunya tetap berusaha stay cool sambil pelan-pelan memberi penjelasan yang tidak menyalahkan, “Buku Dede ada di rak buku di rumah. Ini buku Gramedia yang sama persis dengan yang Dede punya.”

Bagi anak seusia kecamba, penjelasan itu belum cukup. Di depan matanya memang ada buku yang sama dengan buku yang selama ini ia kenal, ia baca setiap hari di rumah. Ia melihat beberapa judul. Sampulnya persis. Gambarnya tak ada beda sedikitpun. Ia tambah yakin dan tetap klaim buku-buku yang berjejer itu punya dia. Ia belum yakin dengan penjelasan ibunya, dan mungkin disertai dengan pertanyaan kecil dalam gumamnya ‘kapan buku Dede dipindah ke sini ya’.

Mungkin kesimpulan anak kecil ini sederhana: ‘Kalau buku itu ada di rumah dan ada di sini, berarti buku Dede ada di sini juga’. Atau kesimpulan-kesimpulan lain yang membuat ia yakin buku itu adalah buku miliknya.

Di situlah kami sadar, bagi seorang anak seusianya, konsep tentang toko, barang dagangan, kepemilikan, dan pembelian memang sedang dibangun sedikit demi sedikit. Terlebih barang itu adalah barang yang sejak awal melekat dengan dirinya dan kami yakinkan bahwa buku-buku di rak bukunya di rumah adalah miliknya (bukan milik Bapak/ibu). Kami pula sampaikan hak dan kewajibannya pada barang-barang yang kami belikan untuknya.

Dan ada satu hal yang kemudian menjadi lucu. Ia memang sudah memiliki beberapa buku yang dibeli dari Gramedia. Hanya saja, selama ini sang ibu sering membelikannya secara online.

Ia hanya mengenal bukunya tanpa tahu bagaimana proses belinya. Ia terbiasa dengan rak bukunya di rumah. Tetapi baru hari itu ia mulai menghubungkan semuanya: buku yang ada di rumah → pernah dibeli → tempat membelinya adalah Gramedia.

Sebuah konsep sederhana bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak dua tahun, itu adalah sebuah penemuan.

Dari “Punya Buku” Menjadi “Memilih Buku”

Setelah melihat buku-buku itu, ia mulai semakin aktif. Ia mengulik buku-buku sendiri. Satu per satu diperhatikan. Ada yang sudah pernah ia punya di rumah. Ada yang belum. Ia seperti sedang melakukan inventarisasi kecil terhadap perpustakaannya sendiri.

“Yang ini sudah punya.” “Yang ini belum.” “Yang ini ada.” “Yang itu belum.” Tentu saja belum sesistematis itu ucapannya. Tetapi rasa ingin tahunya sudah bekerja.

Sampai akhirnya, beberapa buku menarik perhatiannya. Ibunya kemudian berkata kurang lebih, “Ya, nanti dibeliin.” Bukan karena semua buku harus dibeli. Justru sebaliknya. Ia sudah memiliki beberapa buku berbahasa Indonesia. Kali ini ibunya ingin menambah beberapa buku berbahasa Inggris. Syukur, ia menerima opsi “nanti dibeliin”.

Perjalanan mencari crayon pun akhirnya membawa kami jauh lebih banyak daripada sekadar pulang membawa alat gambar.

Toko Buku dan Tumbuh Kembang Anak

Ada sesuatu yang menarik dari pengalaman sederhana seperti ini. Anak tidak selalu membutuhkan kegiatan yang rumit untuk belajar. Kadang cukup diajak ke tempat yang menyediakan banyak hal untuk dilihat, disentuh, ditanyakan, dan dipilih.

Di toko buku, misalnya, seorang anak bisa belajar banyak hal tanpa merasa sedang “belajar”. Ia belajar bahasa ketika membaca atau mendengar nama benda. Ia belajar kognitif ketika membandingkan buku yang sudah dan belum dimiliki. Ia belajar memori ketika mengenali sampul buku yang pernah dilihat. Ia belajar pengambilan keputusan ketika memilih satu buku di antara banyak pilihan. Ia belajar komunikasi ketika bertanya kepada orang tua. Ia belajar sosial ketika berinteraksi dengan petugas toko dan orang-orang di sekitarnya.

Dan yang tidak kalah penting, ia belajar bahwa rasa ingin tahu boleh diikuti. Tentu, bukan berarti setiap keinginan anak harus selalu dituruti. Justru orang tua tetap punya peran penting untuk memberi batas, menjelaskan, mengarahkan, dan membantu anak memilih.

Satu hal yang sudah bagi kami sudah final: memberi kesempatan kepada anak untuk melihat dan memilih sesuatu yang sesuai dengan usianya adalah bagian dari proses tumbuh. Sebab anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita ajarkan. Ia juga tumbuh dari apa yang ia alami.

Mungkin yang Dibutuhkan Anak Bukan Jawaban, Melainkan Kesempatan. Kalau diperhatikan lagi, perjalanan anak batita hari itu sebenarnya penuh dengan pertanyaan. Crayon. Pensil gambar. Buku gambar. Buku yang ada di rumah. Buku yang belum ada. Buku bahasa Indonesia. Buku bahasa Inggris. Semuanya muncul dari proses melihat dan menemukan.

Dan orang tua tidak perlu menjawab semuanya dengan ceramah panjang. Kadang cukup menunjukkan. Kadang cukup menjelaskan satu kalimat. Kadang cukup berkata, “Coba lihat.” Lalu biarkan anak menemukan jawabannya sendiri. Barangkali di situlah salah satu bentuk pendampingan yang paling sederhana dalam tumbuh kembang anak: hadir, menemani, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses penemuan.

Karena masa kanak-kanak bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ajarkan kepada mereka, tetapi juga tentang seberapa luas ruang yang kita berikan untuk mereka menemukan.

— Dentang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *