Meniru: Cara Anak Belajar dan Mengenal Kemampuannya

Ignas Fairuz Bawazier Meniru: Cara Anak Belajar dan Mengenal Kemampuannya

Dentang.co.id – Ada satu hal yang sering membuat saya tersenyum ketika melihat anak bermain dengan prabotan dan atau peralatan yang ‘ngangkring’ di rak prabotan rumah: ini cara anak belajar “menjadi” seperti kita. Ia ternyata tidak membutuhkan banyak penjelasan, cukup eksplorasi sesuai imajinasinya sendiri tentang kita. Memang cukup aneh, tapu lucu. Walau sepentas juga kesel karena ia tidak peduli resiko dari alat-alat prabotan yang dia mainkan,

Hari itu, ia menemukan setrika. Bagi kita, itu barang rumah tangga. Benda yang digunakan untuk pekerjaan tertentu. Tetapi bagi seorang anak kecil, benda-benda di rumah bisa berarti jauh lebih banyak. Mungkin ia pernah melihat bapak atau ibunya menyetrika. Mengamati gerakannya. Meneliti pola pakaian diletakkan, setrika digerakkan, lalu pakaian menjadi rapi. Itu cukup membuat penasaran, dan tak sabar juga ingin “menjadi” seperti kita.

Dan sekarang ia ingin mencoba. Bukan karena ia benar-benar memahami pekerjaan menyetrika seperti kita memahaminya. Barangkali dalam pikirannya sederhana saja: “Kalau Bapak bisa, aku juga bisa.”

Di situlah saya melihat sesuatu yang penting. Anak sedang mencoba memasuki dunia orang dewasa dengan caranya sendiri. Ia sedang mengatakan kepada dirinya bahwa tubuhnya yang masih kecil tidak berarti kemampuannya harus selalu kecil.

Tentu, sebagai orang tua kita tetap harus memastikan benda yang berbahaya tidak benar-benar digunakan anak. Tetapi rasa ingin tahunya jangan sampai ikut kita matikan. Sebab, mungkin yang sedang tumbuh bukan kemampuan menyetrika. Yang sedang tumbuh adalah keyakinan bahwa ia mampu seperti yang orang lain bisa.

Dan menariknya, anak juga tidak selalu membutuhkan mainan yang dibeli dari toko. Bantal bisa menjadi kendaraan. Kardus bisa menjadi rumah. Selimut bisa menjadi tenda. Sendok bisa menjadi alat musik. Barang rumah tangga bisa berubah menjadi apa saja di dalam imajinasinya.

Anak tidak selalu membutuhkan mainan yang sudah memiliki fungsi.

Kadang ia justru membutuhkan ruang untuk menciptakan fungsi sendiri.

Dan mungkin, di situlah kreativitas mulai bekerja. Kita hargai dan terus kembangkan itu.

Ketika Anak Meniru Dunia Orang Dewasa

Apa yang tampak sebagai permainan sederhana dalam foto ini sebenarnya memperlihatkan proses belajar yang penting. Seorang anak yang mencoba melakukan pekerjaan rumah tangga yang pernah dilihatnya bukan sekadar sedang meniru gerakan orang dewasa. Ia sedang mengamati, mengingat, mencoba, dan menguji gagasan tentang “apa yang bisa dilakukan orang lain, saya pasti bisa.”

Dalam perspektif psikologi pendidikan, perilaku semacam ini dapat dibaca melalui teori Social Learning Albert Bandura. Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar bukan hanya melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Proses observational learning melibatkan perhatian, penyimpanan informasi, reproduksi perilaku, dan motivasi. Dengan demikian, apa yang dilakukan orang tua di hadapan anak dapat menjadi model pembelajaran yang sangat kuat.

Bagi anak, orang tua merupakan model ideal yang setiap hari selalu sangat dekat. Aktivitas yang bagi orang dewasa terasa rutin—menyetrika, memasak, membersihkan rumah, memperbaiki barang, membaca atau bekerja—dapat terlihat sebagai sesuatu yang menarik dan bermakna. Anak kemudian mencoba mereproduksinya melalui permainan.

Di sini terdapat proses yang lebih mendasar daripada sekadar imitasi, yaitu: anak sedang membangun keyakinan mengenai kapasitas dirinya.

Ketika anak berpikir, “Bapak bisa, aku juga bisa,” ia sedang memasuki pengalaman awal tentang kompetensi. Bandura kemudian mengembangkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan tertentu. Pengalaman mencoba, berhasil sebagian, mendapatkan dukungan, dan melihat orang lain melakukan sesuatu, dapat ikut membentuk keyakinan tersebut.

Namun, bagi kita sebagai partner kunci di setiap pertumbuhan anak, penting untuk tidak mengartikan perilaku anak sebagai keinginan untuk menjadi “orang dewasa kecil”. Anak tetap berada dalam tahap perkembangan yang berbeda. Yang sedang berlangsung adalah proses mencoba dunia orang dewasa melalui bahasa bermain.

Perspektif Lev Vygotsky membantu menjelaskan hal ini. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menggambarkan jarak antara kemampuan yang dapat dilakukan anak secara mandiri dan kemampuan yang mulai dapat dicapainya dengan bantuan atau dukungan pihak yang lebih mampu. Dalam konteks bermain, anak dapat mencoba tindakan yang belum sepenuhnya dikuasainya, karena bermain menyediakan ruang yang relatif aman untuk bereksperimen.

Karena itu, orang tua tidak selalu perlu mengubah setiap aktivitas anak menjadi sesi pengajaran formal. Dalam banyak situasi, kehadiran, pengamatan, pendampingan, dan batas keselamatan sudah menjadi bentuk dukungan belajar yang penting.

Hal menarik lainnya dalam foto ini adalah pilihan benda yang digunakan anak. Anak tidak selalu membutuhkan mainan yang secara khusus dibuat untuk permainan yang dapat kita beli dari toko mainan. Justru benda-benda yang memiliki fungsi sehari-hari dapat “memperoleh makna” baru ketika masuk ke dalam imajinasi anak. Kardus dapat menjadi rumah, kain menjadi tenda, kursi menjadi kendaraan, sendok menjadi alat musik, dan berbagai benda rumah tangga dapat berubah menjadi bagian dari sebuah cerita.

Gagasan tersebut memiliki hubungan dengan Theory of Loose Parts dari Simon Nicholson. Nicholson berargumen bahwa semakin banyak kemungkinan suatu lingkungan menyediakan material yang dapat dipindahkan, dikombinasikan, diubah, dan digunakan dengan berbagai cara, semakin besar pula ruang bagi penemuan dan kreativitas. Literatur kontemporer tentang loose parts play juga mengaitkannya dengan eksplorasi, pemecahan masalah, divergent thinking, dan perkembangan kognitif.

Ini memberikan pelajaran penting bagi kita sebagai orang tua.

“Kreativitas anak tidak selalu tumbuh dari banyaknya mainan, tetapi dari banyaknya kemungkinan yang tersedia di dalam pikirannya.“

Mainan yang sudah memiliki bentuk, fungsi, aturan, dan cara penggunaan tertentu memang dapat memberikan pengalaman belajar. Tetapi benda yang terbuka terhadap interpretasi memberikan kesempatan berbeda: anak harus menentukan sendiri benda tersebut akan menjadi apa. Di sinilah imajinasi bekerja. Anak tidak hanya menggunakan benda; ia “memberikan makna baru” kepada benda.

Maka, lingkungan belajar anak sesungguhnya tidak berhenti di ruang kelas atau kamar bermain. Rumah, dapur, halaman, meja, kardus, kain, buku, perabotan, bahkan aktivitas orang tua sehari-hari dapat menjadi sumber pengalaman belajar—selama anak memperoleh kesempatan untuk mengamati, bertanya, mencoba, dan berkreasi dalam batas yang aman.

Pada akhirnya, mungkin yang paling penting dari permainan seperti dalam foto ini bukanlah apakah anak benar-benar mampu melakukan pekerjaan orang dewasa. Yang lebih penting adalah pengalaman batin yang sedang dibangunnya: “Aku melihat. Aku mencoba. Aku belum bisa sepenuhnya. Tetapi aku bisa belajar.”

Dan mungkin, pendidikan yang paling mendasar memang dimulai dari sana.

DENTANG — dari percakapan menjadi jejak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *