Namaku Dentang
Dentang hadir untuk mendengar cerita anak, memahami dunia mereka, dan berbincang tentang keluarga, pendidikan, serta pengalaman yang menemani proses tumbuh.
Filosofi Namata
Ada bunyi yang selesai begitu terdengar. Ada pula bunyi yang masih tinggal, bahkan setelah sumbernya berhenti berbunyi. Dentang adalah bunyi semacam itu. Sebuah bunyi yang lahir dari pertemuan, terdengar sesaat, lalu merambat dan meninggalkan gema. Dentang tidak sekadar berarti gema.
Ada gagasan yang lebih dalam: nilai sebuah percakapan diukur dari jejak yang ditinggalkannya, bukan dari seberapa ramai ia terdengar. Bukan tentang seberapa keras sebuah suara terdengar. Tetapi tentang apa yang masih tinggal setelah suara itu selesai. Itulah mengapa kami memilih nama Dentang—Dari percakapan menjadi jejak.
Mengapa DENTANG hadir? Kami percaya, banyak hal tentang anak tidak selalu datang dalam bentuk jawaban. Kadang ia hadir dalam percakapan. Dalam pertanyaan. Dalam perilaku yang sederhana. Dalam kejadian sehari-hari yang tampak sepele. DENTANG hadir untuk ruang itu. Ruang untuk mendengarkan anak, mendengarkan pengalaman orang dewasa, mempertemukan berbagai pandangan, dan membiarkan percakapan tentang anak berjalan lebih jauh dari sekadar selesai dibicarakan. Percakapan bagi DENTANG bukan sekadar pertukaran kata. Ia bisa mengubah cara seseorang melihat. Dan ketika cara melihat berubah, cara memperlakukan anak pun bisa berubah.
“Kami tidak datang untuk menjadi suara yang paling tahu. Kami ingin menjadi suara yang mau mendengar”
DENTANG lahir dari keyakinan bahwa kehidupan anak menyimpan begitu banyak hal yang layak didengarkan lebih dekat. Bukan hanya ketika mereka berhasil. Bukan hanya ketika mereka bermasalah. Bukan juga hanya ketika mereka membutuhkan kita. Kami tidak ingin selalu menjadi pihak yang paling tahu tentang anak. Sebab terkadang, untuk memahami anak, kita justru perlu lebih banyak mendengar dan lebih sedikit tergesa-gesa menyimpulkan.